Life

Kebenaran

Benarkah kebenaran itu relatif? ataukah kebenaran itu mutlak? sehingga hanya tinggal satu saja yang merupakan “kebenaran” yang benar?

Pertanyaan ini semakin mengemuka, apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan peradaban manusia. Telah menjadi fitrah bahwa manusia akan berupaya untuk mencari kebenaran hal-hal yang ada di dunia, dari hal-hal yang sepele sampai dengan hal-hal yang luar biasa besar, seperti Tuhan.

Dalam sejarahnya, seringkali terjadi bahwa manusia sulit sekali menerima kebenaran itu meskipun hal itu dari sesuatu yang sangat logis sekalipun!!!

Lantas, pertanyaan berikutnya, Jika manusia sulit menerima sesuatu yang masih bisa di logika oleh akal manusia, bagaimana manusia itu bisa menerima sesuatu kebenaran yang tidak bisa dilogikakan sama sekali?

Contoh mudahnya adalah perumpamaan kebenaran “in appearance” dan kebenaran “in fact”.

Misalnya adalah foto digital yang telah diolah atau diedit oleh aplikasi photoshop atau Gimp. Foto itu menggambarkan saya memegang piala Euro 2008. Karena “olahan” saya begitu sempurna, sehingga tidak terlihat cacat dan betul-betul terlihat bahwa saya sedang memegang piala tersebut.

Benarkah demikian? Oke, secara indra penglihatan, adalah benar terlihat saya sedang memegang piala tersebut. Tetapi, apabila ditelaah lebih dalam, hal itu adalah suatu kebohongan besar, karena saya memang tidak pernah memegang piala tersebut. Yang terjadi adalah penggabungan dua foto menjadi satu.

Nah, yang dilihat dengan indra penglihatan kita itu seperti kebenaran “in appearance”. “in fact”-nya adalah itu adalah foto editan.

Contoh lainnya adalah video yang sedang menggambarkan seorang anak muda sedang memukul seorang kakek-kakek. Apabila tidak ada penjelasan bahwa itu hanya sepotong adegan dari suatu film, orang yang melihat pasti akan menghakimi bahwa anak muda itu adalah seorang yang jahat.

Oke, mari berlanjut ke substansi yang akan saya bicarakan di sini.

Saya akan menyinggung mengenai kebebasan pers. Banyak sekali dampak positifnya dari kebebasan pers ini, termasuk yang saya tulis ini. Tidaklah mungkin saya bisa menorehkan tulisan apabila tidak ada kebebasan pers di negeri internet ini.

Akan tetapi, setiap orang mesti sadar bahwa ada dampak negatif yang juga sangat berbahaya. Bahwa tulisan dapat menyebabkan orang saling membunuh atau bahkan sampai dengan perang dunia!!!

Nah, yang saya singgung di sini adalah apakah benar bahwa setiap insan penulis yang ada di dunia ini membuat tulisan yang berdasarkan kebenaran “in fact”, tidak sekedar mewartakan kebenaran “in appearance”?

Banyak sekali kasus dimana kebenaran “in fact” menjadi tenggelam dalam suatu tulisan kebenaran “in appearance” yang dikemas luar biasa bagusnya atau karena “didukung” oleh suatu media masa yang memonopoli pemberitaan di suatu negeri, entah itu suatu entitas perusahaan atau suatu pemerintahan.

Bisa dimaklumi bahwa hal ini terjadi tanpa disadari bahkan oleh penulisnya itu sendiri, karena merasa bahwa yang ia tulis adalah suatu kebenaran mutlak!!! padahal, itu hanya diambil dari penggambaran kebenaran “in appearance” atau bahkan hanya kebenaran “sayup-mayup” yang ia dengar dari sumber yang “katanya” terpercaya.

Tidak sadarkah penulis itu akan pengaruh yang dihasilkan dari tulisannya itu bisa sangat luar biasa karena tidak hanya dibaca satu atau dua orang tapi bisa jadi jutaan orang di seluruh dunia.

Dan yang lebih berbahaya lagi adalah bahwa sangatlah besar biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk sekedar meralat “satu kata” yang telah tertulis apabila kebohongan tersebut sudah terlanjur menyebar.

Lantas, bagaimana menghindari hal seperti ini? tidak adakah perangkat untuk membendung kebohongan ini? Jawabannya tidak ada selain dari penulis itu sendiri.

(bersambung……)

Advertisements

One thought on “Kebenaran

  1. Salam hormat buat anda tuan empunya blog.

    Maafkan saya kerana saya tidak pasti nama peribadi anda.

    Ya benar sekali apa yang tuan katakan bahawa kebenaran terbukti dengan dua cara iaitu dengan fakta dan dengan menghadirkan bukti.

    Namun bagi agama Islam, kedua-duanya adalah berfungsi. Fakta adalah hujah kenyataan manakala menghadirkan bukti adalah hujah alam ghaib.

    Piala dunia dihadirkan di hadapan kita, ia adalah fakta. Dan jika foto piala dunia yang daimbil dengan tustel digital dan diperlihatkan kepada kita adalah menghadirkan bukti rupa piala dunia.

    Namun fakta adalah tuntas tetapi menghadirkan bukti perlu lanjutan penelitian.

    Jelasnya kedua-duanya adalah bukti kebenaran.

    Salam hormat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s