E-Learning

Berkunjung ke UGM

Kamis, 13 November.
Banyak yang saya catat dari hasil perjalanan ke Universitas Gajah Mada.

Yang pertama, kesan yang saya tangkap dari Bapak Djoko Luknanto, seorang dosen senior di teknik sipil UGM. Beliau sangat low profile. Dan di usia yang tergolong tidak muda lagi, beliau masih tidak alergi dengan hal-hal yang berbau teknologi.

Hari itu, saya banyak belajar dari beliau, meski hanya dalam pertemuan yang cukup singkat di sela-sela kesibukan beliau yang memang cukup padat. Tema yang kami bawa pada perjumpaan itu adalah mengenai E-Learning yang sudah berjalan di UGM. Beliau merupakan orang yang dipercaya dalam mengembangkan e-learning di UGM. Dalam perjalanannya, banyak sekali halang rintang yang dihadapi, salah satunya adalah mengenalkan kepada rekan-rekan dosen lainnya pemahaman mengenai e-learning itu sendiri.

Beliau menegaskan, seringkali banyak orang yang lebih mementingkan E dibanding Learning itu dalam implementasi E-Learning. Artinya, teknologi yang terlalu dikedepankan atau terlalu dipentingkan dibanding konten atau isi pembelajaran itu sendiri atau terlalu menekankan teknis dibanding aspek non-teknis.

Beliau menyebutkan bahwa aspek non-teknis yang penting salah satunya adalah budaya. Budaya dari satu fakultas belum tentu sama dengan fakultas lainnya meskipun berada dalam satu naungan universitas. Oleh karena itu, dalam mensosialisasikan dan melakukan implementasi e-learning, beliau menggunakan teknik atau strategi yang berbeda untuk tiap-tiap fakultas.

Beliau juga memberikan satu contoh model konten e-learning sederhana untuk menjelaskan hal teknis sering ditakuti oleh mahasiswa. Beliau cukup membuat modelnya dengan menggunakan power point untuk membuat konten lebih ‘hidup’. Selanjutnya, dengan narasi yang sederhana, beliau menjelaskan logika dari suatu teori dengan cara yang sangat gamblang. Saya teriak dalam hati, Nah, ini dia sebenar-benarnya model yang pembelajaran yang ‘mengena’ untuk peserta didik.

Jadi, bukan tools untuk membuat konten-nya, tetapi yang membuat suatu konten modul menjadi hidup adalah desain instruksional konten itu sendiri. Disinilah letak pentingnya psikologi pendidikan dalam hal penyampaian suatu materi kompleks menjadi terlihat sederhana dan sangat mudah untuk dicerna. Dalam contoh tersebut, beliau juga menyarankan untuk menghindari pemakaian kata-kata, definisi atau apa saja yang dimata peserta didik sangat menakutkan.

Selanjutnya, buatlah peserta didik untuk ‘berpikir’ sendiri untuk mencerna logikanya dan kemudian meminta peserta didik untuk mengemukakan apa yang mereka pikirkan tersebut. Jadi, unsur WHY dibuat mendominasi untuk pengajaran kepada peserta didik orang dewasa. Dengan demikian, peserta akan dibuat penasaran dan akan mengikuti terus sampai tujuan pembelajaran tercapai secara keseluruhan. Nah, terakhir, baru dimunculkan rumus, formula atau apa saja yang sebenarnya ingin diperkenalkan kepada peserta didik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s