Canon_PowerShot_SX200_IS_Telah sekitar lima tahun semenjak pertama kali memiliki kamera digital. Kamera pertama yang dipilih dulu adalah Kodak DX7440 yang pada saat itu termasuk kamera P&S dengan lensa lumayan bagus.

Kodak DX7440
Kodak DX7440

Satu kekurangan yang saat itu agak mengganggu adalah karena dimensinya lumayan besar dan bobotnya agak berat dikit. Agak males kalau harus tenteng2 kamera yang lumayan gede dan tidak bisa dimasukkan ke saku ini.

Hasil jepretan yang diperoleh cukup bagus untuk settingan otomatisnya. Setting manual jarang sekali dicoba karena sudah cukup puas dengan asal jepret saja, meski dalam kondisi low lighting/indoor/malam hari. Bahkan, pernah suatu saat, ketika dipakai untuk memotret dengan latar belakang gedung saat malam hari, hasilnya masih dibilang cukup untuk sekelas kamera saku. Pada saat yang sama, kamera lain sekelas tidak menghasilkan gambar yang sekedar  “bisa dilihat”.

Hanya saja, memang pada “jamannya”, fitur semacam image stabilizer belum ada. So, motret pada malam hari “harus” pake tripod baru akan terlihat lebih sempurna.

Kamera Kodak pertama inilah yang mengabadikan momen-momen berharga saat tinggal di negeri orang. Telah banyak peristiwa yang ditangkap melalui lensa dalam bentuk still photo maupun video. Yang saya ingat, dalam setiap kali mengambil gambar, settingan hampir selalu menggunakan setingan otomatis yang disediakan Kodak.

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu LCD-nya rusak karena jatuh ke lantai. Meskipun LCDnya rusak, kamera masih bisa dipake untuk foto karena masih ada view findernya dan hasilnya juga masih bagus. Karena sayang, LCD-nya sempet diperbaiki dan kembali berfungsi normal sampe sekarang.

Bila dibandingkan dengan Canon Powershot SX200IS, ternyata Kodak DX7440 masih mampu menggigit (atau bahkan melampaui) kamera baru ini.

Canon SX200IS
Canon SX200IS

Saat pertama mencoba settingan otomatis Canon dalam ruangan indoor, fitur oto-nya akan selalu meng-adjust ke ISO yang lumayan tinggi sehingga hasil jepretannya akan banyak “noise”-nya!!! Meski pake flash sekalipun, masih saja ISO-nya cukup tinggi. Jika dilihat dikomputer atau LCD kamera, noise itu sangat kelihatan.

Anehnya, hal itu tidak terjadi pada Kodak. Saya coba cari foto-foto lama dengan setting indoor dari hasil jepretan Kodak. Setelah saya lihat, dengan settingan oto Kodak, ISO-nya hampir selalu dipertahankan ke 80 apabila flash mencukupi. Dan jarang sekali naik ke atas (apalagi lebih dari 200).  Hasilnya, noise-nya memang tidak terlalu kelihatan dibanding hasil jepretan SX200. Sepertinya, salah satu yang membedakan adalah kekuatan flash DX7440 yang mungkin lebih bagus ketimbang SX200.

Alhasil, untuk memperoleh hasil yang bagus, kamera harus disetting manual terlebih dahulu. Jika disetting manual, memang hasil akan jauh lebih bagus daripada DX7440. Cuma pertanyaan yang akan selalu menggantung adalah apa yang akan terjadi jika harus mengambil gambar spontan? jika setting manual, pastilah peristiwa utama yang akan diabadikan lenyap begitu saja karena detik-detik sangatlah berharga dan mungkin saja peristiwa itu tak akan pernah terulang lagi.

Advertisements

2 thoughts on “Kodak DX7440 versus Canon SX200IS

  1. Wah, saya juga lagi cari2 camera digital budget SX200 IS pak, bingung sama Panasonic Lumix TZ7. Menurut bapak bagusan mana pak?

    Terima Kasih

    1. Menurut review yang pernah saya baca (sebelum beli SX200), line-up produk Panasonic masih lebih baik dari Canon untuk kelas ini. Jadi, lebih baik dipertimbangkan yg TZ7 daripada SX200

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s