Merenungi beberapa hal yang terjadi beberapa waktu ini dan menyambung pada tulisan sebelum ini, saya mendapatkan satu hal bahwa dunia memang sangat beragam. Bahkan, dalam kumpulan yang kelihatannya homogen ternyata juga masih sangat beragam.

Di sini, akan saya ambil penggalan kisah dari negeri timur tengah. Pada suatu saat, serombongan keluarga pengelana yang terdiri dari ayah dan anak memasuki suatu kota. Karena hanya ada satu hewan tunggangan yang muat satu orang saja, maka sang ayah memilih untuk berjalan. Sementara itu, sang anak berada di atas punggung keledai beserta beberapa barang bawaan.

Ketika berjalan melewati kota, terdengarlah beberapa orang dipinggir jalan mulai berceloteh. Salah seorang berkata “Payah banget tuh anaknya, mosok bapaknya disuruh jalan….mestinya dia turun dan mempersilahkan bapaknya duduk di atas keledai…..”
Kemudian terdengar nada persetujuan dari orang-orang disekitarnya.
Mendengar percakapan itu, sang anak kemudian merasa tidak enak dan turun dari keledai. Kemudian, Sang bapak diminta untuk duduk diatas keledai.

Pada kota yang kedua, kembali lagi sang bapak dan anak mendengar celetukan orang-orang dipinggir jalan. Mereka mengatakan bahwa seharusnya sang bapak yang mengalah dan membiarkan anaknya saja untuk duduk di atas keledai. Daripada berkepanjangan, turunlah sang Bapak dan meminta anaknya untuk naik. Namun, sang anak dengan sopan mengingatkan kasus di kota pertama. Akhirnya, keledai pun melenggang tanpa ditunggangi sang Bapak maupun anaknya.

Selesai berbisnis di kota itu, mereka melanjutkan perjalanan dikota lain.
Ketika mereka sampai di kota kedua, terdengarlah lagi percakapan lain yang membuat telinga mereka jadi merah.
Si Fulan di pinggir jalan berceloteh kepada orang-orang disekitarnya sambil menunjuk ke pengembara. Dia berkata “We lah dalah….Guoblok bener tuch orang…..mosok pada jalan kaki….lha wong ada keledai kosong tanpa barang…..”

Sementara, si fulan lainnya menimpali…” ho oh….gak punya otak kalee.., goblok kok ya dipelihara…”

Demikianlah, ternyata maksud baik yang sudah dilakukan, tetap dianggap salah juga, hanya karena berbeda pandangan tentang ‘kebaikan’ mana yang dianggap paling benar. Semua orang memiliki prioritas sendiri-sendiri menurut prinsip yang mereka pegang paling benar. Lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya.

Yang kedua, tentunya harus pandai-pandai melihat lingkungan sekeliling. Baca dulu keadaan, sesuaikan dengan kondisi yang ada. Sekali lagi karena “Lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya”.

Celakanya, semakin lama,  ‘abrasi kebaikan’ yang nyaris terjadi pada hampir semua lingkungan sehingga pemahaman ‘kebaikan’ original kian lama kian pudar. Celakanya lagi, abrasi tersebut berjalan ke arah yang negatif, sehingga maknanya kian hilang dan tertutup oleh ego manusia yang begitu tinggi.Yang semakin membuatnya parah adalah karena pengaruh kian pendeknya jarak dan waktu karena teknologi. Efek globalisasi sungguh sangat terasa, meski dikampung pelosok sekalipun.

Karenanya, ‘kebaikan’ itu akan menjadi sesuatu yang asing, bahkan dari tempat ‘kebaikan’ itu berasal.

Yang menjadi bencana adalah ketika ‘kebaikan’ yang terkikis itu adalah ‘kebaikan’ hakiki, yang bersifat fondasi dan universal di setiap tempat dan waktu. Degradasi akan sungguh terasa ketika ada upaya untuk mengembalikan ‘kebaikan’ itu pada rel yang sebenarnya. Maka yang terjadi adalah keterasingan ‘kebaikan’.

Keterasingan sudah berulang kali terjadi dalam sejarah perjalanan manusia. Jika meneropong ke masa lampau, setelah umat Nabi Nuh diselamatkan dari bencana banjir global, kefakuman panjang telah didobrak oleh pemuda Ibrahim.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s